MoU Antara BATAK CENTER dan LABB
JAKARTA – Dewan Mangaraja Lokus Adat Budaya Batak (DM LABB) dan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) BATAK CENTER resmi menjalin kerja sama strategis selama lima tahun ke depan. Kemitraan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang berlangsung di Kampus Universitas Mpu Tantular, Jakarta Timur, pada Senin siang (22/6/2026).
Langkah taktis dua lembaga arus utama Habatahon ini difokuskan pada penguatan nilai-nilai luhur budaya, pelestarian adat, sekaligus menjawab tantangan sosial nyata masyarakat Batak modern, khususnya di Kawasan Danau Toba. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Ketua Umum BATAK CENTER Ir. Sintong M. Tampubolon dan Sekjen Drs. Jerry R. Sirait, bersama dengan Ketua Umum DM LABB Dr. Pontas Sinaga, M.Sc dan Sekjen Sepri Situmeang, S.Pi., MM.
MoU yang mengusung tema “Kerja Sama Strategis Penguatan Habatakon, Pelestarian Adat dan Budaya Batak, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Pemberdayaan Sosial Ekonomi, dan Pembangunan Masyarakat Batak” ini mencakup tujuh ruang lingkup utama. Ketujuh bidang tersebut meliputi: Adat dan Budaya; Pendidikan dan Pengembangan SDM; Sosial Kemasyarakatan; Kesehatan Masyarakat; Ekonomi dan Kesejahteraan; Kebangsaan dan Kepemudaan; serta Kelembagaan.
Atasi Patologi Sosial dan Stunting dengan Kearifan Lokal
Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah komitmen bersama untuk melakukan aksi pencegahan dan penanganan masalah patologi sosial anak serta tingginya angka stunting di Kawasan Danau Toba. Fenomena pelanggaran moral, etika, agama, serta hukum formal, seperti maraknya Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan kekerasan seksual pada anak, kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.
Sekjen BATAK CENTER, Jerry Sirait, menegaskan bahwa dalam menangani patologi sosial tersebut, pihaknya akan mengedepankan pendekatan kearifan lokal dengan melibatkan para pakar dan akademisi.
“Kita menyepakati studi pengembangan wawasan yang secara khusus menyoroti masalah KDRT di lingkungan masyarakat Batak yang amat membahayakan sekarang, terutama mengenai kekerasan seksual, di mana bahkan anggota keluarga inti bisa menjadi pelaku. Ini harus dicegah dengan kearifan lokal,” ujar Jerry dalam forum dialog usai penandatanganan.
Ia menambahkan bahwa tokoh akademisi seperti Prof. Dr. Payaman Simanjuntak dan Prof. Dr. Hotman Siahaan akan dilibatkan sebagai narasumber utama untuk mengkaji ulang nilai-nilai luhur (core values) Habatakon, seperti Dalihan Na Tolu, agar menjadi pedoman nyata yang membentengi generasi muda Batak. Di samping itu, program kesehatan ibu dan anak serta penanganan stunting akan dijalankan sebagai upaya komplementer terpadu guna memperbaiki kualitas hidup masyarakat setempat.

Agenda Nyata ke Depan: Dari Ulos hingga Museum Batak Raya
Penandatanganan kerja sama ini langsung direspons dengan rencana aksi konkret dari kedua belah pihak. Dalam waktu dekat, tepatnya pada Kamis, 25 Juni 2026, akan diadakan Peluncuran Buku dan Diskusi “Ruhut-Ruhut Adat Batak Toba Se-Jabodetabek (Cetakan 2)” di Aula Kampus Universitas Mpu Tantular. Acara tersebut dijadwalkan menghadirkan Menteri Kebudayaan RI, Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, M.Sc sebagai pembicara utama (keynote speaker), dengan pengulas buku oleh Prof. Dr. Payaman Simanjuntak.
Selain itu, perwakilan LABB Martua Situngkir mengumumkan rencana penyelenggaraan Seminar Nasional tentang “Ulos Namarhadohoan” pada Oktober 2026 mendatang di NT Tower Jakarta dengan dukungan dari Nurdin Tampubolon. Kepanitiaan bersama akan segera dibentuk guna merumuskan program-program strategis lainnya yang menyasar kepemimpinan generasi muda.
Tidak kalah penting, BATAK CENTER juga memaparkan dua agenda besar kebudayaan yang masuk dalam proyeksi kerja sama ini, yaitu penyelenggaraan festival budaya berskala besar, “Ulos Fest”, serta inisiasi penting berupa pendirian “Museum Batak Raya”. Kehadiran museum ini diharapkan dapat menjadi pusat dokumentasi, digitalisasi, serta pusat pembelajaran literasi sejarah budaya Batak yang dapat diwariskan lintas generasi.
Pertemuan strategis ini turut dihadiri dan disaksikan oleh sejumlah tokoh dan pemuka masyarakat Batak ternama, antara lain Prof. Bomer Pasaribu, Ketua Umum YPDT Drs. Maruap Siahaan, MBA, Ir. Alimin Ginting, Ir. Monang Rumapea, Dr. Freddy Pandiangan, Dr. Ishak Hutagalung, Rentaline Sihite, Jhohannes Marbun, MA, Martua Situngkir, Jackson Turnip, Johansen Silalahi, dan Justin Sinambela. Keterlibatan para tokoh lintas sektor ini mempertegas kesolidan visi bersama demi masa depan masyarakat Batak yang bermartabat dan sejahtera.
Pewarta: BTS
